Jumat, 09 November 2012
beauty of love
Tell me, what is love??and how does it work?I always try to find out. But I stil wonder how it works. Seems like mysterious thing.
Yah. Hanya beberapa bulan yang lalu saya katakana TIDAK. “Sorry I cant do that. I cant be yours. Sorry.” Yang ada dalam benak saya waktu itu hanyalah tanda tanya. Masih dengan pertanyaan yg sama. “How does love work? We just know each other. What love that he means?” I couldn’t find the answer. He just said that he didn’t know. Just love. Just falling in love.
What! Naif sekali. Saya tidak bisa menerima alasannya. Cinta tidak semudah itu!
And time goes by…dia semakin menyebalkan…saya semakin tidak yakin melangkah bersamanya…saya semakin merasa keputusan yang sudah saya lakukan adalah sangat tepat. but time goes by and he always there….sumthing call mysterious thing come…still wonder how it works but God has opened my eyes…actually not my eyes…but my heart…God taught me how to see sumone with heart…how to feel the love with love…And I cant close my eyes…cant close my heart…when he said (for the first time)…he asked me… my heart…he was begging me…in the name of the one that I love most…the one that give me breath and life. He was begging me in the name of God.
And sumthing call mysterious thing is works. Love become so naturally. Sound like a whisper…blow in my heart…And It happens. I’ve already fall…falling in love with him. Tidak seperti pangeran punya Cinderella. Tidak juga seperti clark di serial smallville. He just an ordinary guy. Meskipun dia percaya diri 100% dengan semua yg dimilikinya.
But well I have choose him. Atas nama cintaNya…saya memutuskan menjalani satu komitmen dengannya. Seseorang yang telah meminta saya atas namaNya. Seseorang yang telah meminta cinta saya padaNya. Dan Tuhan membisikkan cinta itu lewat cara yang misterius. I think I don’t need to ask “why” or “how” anymore. Love is enough. I think I don’t need any explanation. Just love.
Thanks God…for the beauty of love. ;)
*Catatan 12des2011 disalin dari multiply
JURNALISTIK???
As a Journalist??But what is journalistic???
Itulah pertanyaan yang terlintas di kepala saya ketika membaca tittle pekerjaan yang tercantum di kartu nama saya. Sekonyong-konnyong saya merasa bingung, heran, senang sekaligus penuh tanda tanya. Berulang kali saya harus mencubit tangan saya sendiri dan menyadarkan siapa diri saya sekarang. I’m not designer anymore. I won’t create sumthing. But I’ll search sumthing to be news. Yes I’m a journalist.
Meskipun masih terbata, saya berusaha memahami posisi saya. Meskipun tanpa diklat atau masa orientasi, sebisa mungkin saya memahami peran yang saya jalankan dalam sebuah media. Pekerjaan yang sebetulnya saya impikan, entah kenapa jadi begitu membutakan saya. Seperti cahaya bintang yang kita lihat dari kejauhan. Indah, apalagi jika kita mampu menggenggamnya. Tapi ketika cahaya itu dekat, ternyata begitu menyilaukan. Seketika juga membutakan.
Mungkin itu juga yang saya rasakan pada awalnya. Tapi sebuah proses membawa saya pada banyak pelajaran. Diam dan banyak mendengarkan sambil diam-diam “mencatat” apa yang mereka katakan tentang jurnalistik.
Jurnalistik = suck = ???
Suatu ketika saya terkejut dengan kata-kata rekan saya yang lebih lama berkecimpung di bidang jurnalistik dibanding saya. Dia bilang “Jurnalistik itu suck!!!”. Dengan keras ia mengatakan itu kepada saya. Saya lama termangu menunggu kata-kata selanjutnya. Kata-kata itu sungguh menampar saya. Menampar saya sebagai seorang journalist. Jika journalistic itu suck, lalu apakah saya yang notabene adalah journalist juga bagian dari kata suck itu. ???
Dan dia menjelaskan beberapa kalimat. Bercerita tentang jurnalistik yang lebih banyak dia tahu dibanding saya. Saya mendengarkan, seksama, tapi tetap tidak terpuaskan. Ada banyak hal yang harus saya tahu tentang jurnalistik. Dan itu tidak bisa terpuaskan hanya dengan cerita. Saya harus mengalaminya. Saya harus masuk di dalamnya. Dan saya baru bisa menilai sendiri apa itu sebenarnya jurnalistik.
Jurnalistik = jam terbang ???
Redaktur pelaksana media saya pernah bilang bahwa jurnalistik itu adalah tentang jam terbang. Saat itu saya sadar betul bahwa level saya masih beginner. Ia bilang dari jam terbang itu seorang wartawan akan mendapatkan semakin banyak narasumber yang bisa memperkuat tulisannya. Darisana saya simpulkan jurnalistik itu lebih dari sekedar menulis. Proses sebelum menulis itu lah seni profesi seorang wartawan.
Jam terbang itu penting. Saya sadari betul kalimat itu untuk memacu saya lebih baik lagi dan lagi. Tapi terkadang itu membuat saya kecil hati. Terutama jika berada di tengah wartawan lain. Seperti suatu ketika saya berada dalam sekelompok wartawan. Waktu itu kami sedang menunggu narasumber kami. Kami berempat waktu itu. Satu orang sudah malang melintang di dunia wartawan. Berpindah-pindah dari satu harian ke harian, hingga akhirnya memegang majalah untuk stake holder. Satu lagi wartawan harian ekonomi yang dulu sempat lama di majalah ekonomi juga. Satu orang lagi wartawan majalah ekonomi yang ternyata teman sepantaran bos saya. Dan saya sendiri wartawan majalah arsitektur interior yang belum ada satu tahun menjadi seorang wartawan. Yang masih meraba tittle journalist di kartu nama yang suka dbagi-bagikannya.
Sambil membunuh waktu kami pun ngobrol ngalor ngidul. Lebih tepatnya mereka sih yang ngobrol ngalor ngidul. Membicarakan teman mereka satu sama lain yang sama-sama bekerja di media. Si toni lah, joko lah, ah siapa itu saya tidak tahu. Praktis saya lebih banyak diam. Maw ngobrol tentang ekonomi juga saya bingung. Apalagi teman-teman wartawan yang lain.
Sampai akhirnya mereka sampai di satu pembicaraan seorang wartawan harian ekonomi yang mengeluhkan pekerjaan wartawan-wartawan karena masih baru. Dan pipi kanan saya tertampar . Meski dia kemudian meralat ucapannya karena saya nyelethuk sensi meski sambil bercanda. Ia meralat wartawan harian dan wartawan majalah pressure nya beda. Yah sudahlah. Bagaimanapun dia meralat ucapannya, pipi kanan saya sudah terlanjur tertampar. Tidak seberapa sakit sih. Masih ada pipi kiri yang baik-baik saja. Lagipula saya sudah sadari betul sih, jurnalistik adalah tentang jam terbang.
Tamparan di pipi kanan rupanya tidak benar-benar cukup. Satu lagi kejadian. Ada satu lagi wartawan yang ikut nimbrung selain berempat tadi. Wartawan majalah stake holder yang sebelumnya sudah malang melintang di dunia jurnalistik. Waktu itu kita sedang membicarakan tulisan harian lain tentang event yang sama-sama kita liput. Membicarakan satu judul yang terbilang sangat-sangat positif yang akhirnya jadi malah negatif menurut kami. Dan wartawan baru yang ikut nimbrung tadi membanting korannya ke meja sambil bilang “Di dhelok tekhok lead e ae wes kethok lek wartawane anyar gurung ono setaun”. Kurang lebih artinya “Dilihat dari leadnya saja sudah kelihatan kalo wartawannya baru belum ada setaun”. Dan benar saja sekarang pipi kiri saya yang tertampar. Keras. Lebih keras dari tamparan sebelumnya. Karena kali ini tidak ada ralat. Karena saya pun memilih diam saja. Diam. Benar-benar diam. Sudah telak! Tidak mampu berkata apa-apa lagi.
Yayaya…jurnalistik adalah tentang jam terbang. Itu benar. Tapi hati saya tetap tidak terpuaskan. Apakah benar tonggak demokrasi bertopang pada yang namanya jam terbang. Saya masih terus mencari. Menangkap momen, menyimpannya dalam memori saya, dan mencari tahu apa itu jurnalistik.
Waktu itu dalam sebuah diskusi terbuka ada banyak orang yang hadir dari berbagai macam latar belakang pendidikan dan usaha. Ada pengusaha, asosiasi pengusaha, narasumber, pemerhati lingkungan, dan tentu saja ada wartawan. Salah seorang narasumber yang juga senior di salah satu media terbesar mengungkapkan pertanyaan yang sedikit menohok salah seorang pengusaha yang sedang punya hajat dalam acara itu. Sekonyong-konyong setelahnya seseorang yang mengaku dari media daerah itu mengajukan pernyataan dengan komparasi yang dangkal menurut saya. Dan disana terlihat sekali ia membela pengusaha yang sedang punya hajat.
Saya cuma tersenyum getir mengikuti debat kusir itu. Debat yang tidak cerdas dan tidak anggun. Seorang wartawan harian ekonomi di belakang saya nyeletuk “wartawan bayaran nih”. Oh God, saya tersentak! Dia membuka satu celah pikiran negatif yang sebenarnya tidak terlintas di benak saya.Tapi melihat ketidakwajaran itu, mau tidak mau kemungkinan itu pasti ada. And there were so discusting!. Mungkin ini yang dikatakan rekan saya bahwa jurnalistik itu suck! Saya Cuma mengelus dada. Mungkinkah serendah itu. Dan dari yang saya tahu dia wartawan yang punya jam terbang. Bukan wartawan baru seperti saya. Sayangnya jam terbang yang dia miliki rupanya tidak menjanjikan banyak hal seperti yang saya harapkan sebelumnya.
Jam terbang ternyata tidak menjanjikan segalanya tentang jurnalistik. Hal yang sama dikatakan teman satu kos saya juga yang sudah lebih lama berkecimpung di dunia jurnalistik. Dia bilang “Lihat dulu hasil tulisannya baru dia bisa sok-sokan. Belum tentu lagi yang sudah senior lebih baik,” Dan kata-kata itu menghibur saya. Setidaknya membesarkan hati saya yang sudah ciut.
Loyalitas!
Seiring dengan waktu rasa solidaritas dengan sesama komunitas itu mulai muncul. Yah…gimana engga. Lingkungan sekeliling saya wartawan. Makan ketemu wartawan, pulang ke kosan ketemu wartawan, kerja juga jadi wartawan. Otomatis ya omongannya seputar jurnalistik, atau komentar-komentar khas wartawan. Yang biasanya pinterrr banget ngritik. Tapi sebenernya belum tentu juga bisa melakukan apa yang dia ungkapkan. Haha… Yah kami wartawan memang harus memegang satu patokan yang benar sih ya. Harus kritis dengan apa-apa yang diluar jalur kebenaran. Ah sepertinya keren yah..penegak kebenaran. Haha..
Rasa solidaritas itu biasanya muncul ketika ada berita tentang wartawan. Misalnya ketika seorang wartawan ditemukan meninggal secara misterius. Atau ketika ada berita wartawan meninggal karna meliput daerah bencana. Meski ga kenal rasanya tuh kayak udah mau nyelawat aja. (Meskipun ga nyelawat juga sih akhirnya). Melihat wartawan yang bekerja dengan penuh loyalitas tuh rasanya pengen hormat grak. Apalagi sampe berkorban nyawa gitu.
Menyeramkan kalo sudah seperti itu. Dulu saya cuma lihat di tv atau di film2 wartawan-wartawan yang diteror karena menulis berita yang mengancam seseorang. Atau wartawan yang menembus medan perang dan bencana. Sekarang semua itu begitu dekat ada di hadapan saya. Welcome to the real world!
Pekerjaan ini tidak mudah. Menuntut loyalitas yang tinggi. Jika boleh saya ingin sejajarkan dengan profesi dokter. Jika seorang dokter jam berapapun harus siap ketika ada pasien yang gawat. Begitu juga wartawan harus siap turun kapanpun itu. Seperti terjadi di salah satu teman saya, tetangga satu kosan. Dia harus berangkat malam-malam jam 22.30 waktu itu untuk meliput merapi yang baru meletus. Bayangkan berangkat malam itu juga. Ga pake nunggu besok. Padahal dia baru datang dari liputan di Cirebon. Wah saya ngga bisa bayangkan gimana capeknya. Apalagi kalo inget badannya yang kurus kering. Dan malam terakhir sebelum dia brangkat kita makan malam bareng. Dia masak sayur yang tersisa di kulkas kosan kami. Tinggal dua batang ocet waktu itu. DIa sempet meminta sayuran dari lalapan saya. Karna ga tega saya kasih aja sekalian ikannya. Dan ternyata malam itu juga dia harus brangkat. Untung dia sudah makan malam. Stidaknya ada energi malam itu kalaupun harus turun cari berita malam itu juga. Dan sampai sekarang teman saya itu belum kembali. Bahkan merapi terus bergejolak.
Beberapa berita tentang wartawan yang meninggal terkena awan panas sempat jadi berita di awal-awal bencana itu terjadi. Saya kepikiran banget. Teman saya sedang menjalankan tugas, menantang maut. Pergi ke sebuah lokasi bencana. Bukan untuk jalan-jalan pastinya. Tapi untuk mencari berita. BERITA!!! Mencari berita dengan taruhan nyawa.
“Keren!” kata seorang teman saya yang punya background jurnalistik. Dan dia bilang dia pengen ditugaskan di medan bencana atau medan perang. Itu katanya liputan tingkat tinggi untuk seorang wartawan.
Tapi saya yang bukan dari background jurnalistik berpikir, Apa itu sebanding?? menantang maut di sebuah lokasi bencana hanya untuk mendapatkan berita. Maaf jika penggunaan kata hanya ini tidak tepat. Karena setelahnya saya baru sadar betapa pentingnya sebuah berita.
Dengan membuka Koran, internet, atau menyalakan tv kita sudah bisa melihat kondisi saudara2 kita yang terkena bencana. Bayangkan jika tidak ada wartawan disana. Mungkin kita tidak akan tahu kondisi disana dan mereka yang terkena bencana akan tetap menderita. Seperti kata seorang wartawan senior harian kompas “Tugas seorang media adalah MENYUARAKAN MEREKA YANG TERBISUKAN.” Dan saya mengamini kalimat itu benar adanya. Jika media itu bungkam atau dididkte oleh satu kepentingan, jelas saja eksistensinya sebagai media patut dipertanyakan.
Dan…sepertinya tulisan saya cukup panjang. Mungkin anda sudah capek bacanya ya. Lalu kesimpulannya apa itu jurnalistik? Yah mungkin terlalu dini untuk wartawan ingusan seperti saya menyimpulkan. Tapi setidaknya saat ini saya bisa bilang jurnalistik itu tidak suck! Jurnalistik seperti halnya bidang pekerjaan lain. Bisa diibaratkan seperti mata uang yang punya dua sisi. Setiap orang bisa memilih akan berada di sisi mana.
Wartawan yang jujur mengungkap fakta atau wartawan bayaran dengan berita pesanan. Wartawan dengan loyalitas tinggi untuk mendapatkan berita atau wartawan yang enggan turun dari kursi kerjanya. Semua itu pilihan. Yang jelas pilihan itu akan dipertanggungjawabkan. Berita yang diturunkan seorang wartawan akan berdampak pada sekian banyak pemikiran orang yang membacanya. Jika itu menyesatkan, maka ribuan orang akan tersesat. Tapi jika berita itu benar manfaatnya akan dirasakan banyak orang.
Saya masih terus belajar menjadi seorang wartawan. Yang jelas saya bangga dengan status ini dan tidak akan mengecewakan rasa bangga yang tumbuh di hati saya. Saya akan lakukan yang terbaik.
*catatan 9nov2010 disalin dari muliply
sekelumit cerita pulang kampung
Pulang…pulang...
Sedikit ingin bercerita tentang saat-saat pertama tiba di kampung halaman beberapa hari yang lalu….Senang…puas…rasanya setelah melalui beberapa jam perjalanan di kereta akhirnya sampai juga. Setelah beberapa hari stay dan jalan-jalan keliling Malang, ternyata memang tidak banyak yang berubah. Selain di beberapa sudut aku melihat bangunan yang mulai dialihfungsikan menjadi ruko. Atau tanah2 kosong sudah mulai dibangun jadi ruko-ruko juga. Dan pengisinya masih tetap sama…swalayan indo**aret atau alf*ma*et. Persaingan yang semakin ketat.
Ada juga pertokoan baru dengan cat berwarna warni di sebelah mall yang dulu kontroversial “mat*s”. Dulu kawasan itu ditutupi pagar seng dan tidak jelas fungsinya, hanya dibiarkan mangkrak sebagai bangunan yang tidak jelas. Tapi sekarang rupanya sudah jadi. Tapi saya tidak terlalu jelas juga fungsinya mall atau sekedar pertokoan saja. Sepertinya sih baru jadi. Belum banyak diisi juga. Atau mungkin masih banyak yang libur gara-gara lebaran.
Pemandangan di tepi sungai daerah jembatan Soekarno Hatta mulai berubah. Apartemen yang akan dibangun di pinggir sungai itu ternyata sudah mulai dikokohkan pondasinya. Surat ijinnya ternyata berhasil keluar. Ckckck...aku penasaran...bukan seperti apa bentuk bangunannya, tapi akan seperti apa setelah 5 atau 10 tahun sesudah apartemen itu jadi. Ah...mari kota berdoa yang baik-baik saja.
Masih di kawasan Soekarno Hatta. Aku lihat pembangunan rumah sakit baru yang dulu juga banyak diprotes itu juga belum sepenuhnya rampung. Entah bagaimana akhirnya.
Hmm...yang jelas perkembangan kota kecil ini memang tidak secepat kota2 besar. Jalanannya juga masih sama. Tidak terlalu sepi atau terlalu ramai. Masih seperti dulu. Ahh...dan aku tetap senang kembali ke kota Malang...
Merasakan kembali pulang ke sebuah rumah sederhana yang penuh kehangatan cinta...sungguh nikmat. Bangun di pagi hari...menikmati udara segar dan tanaman yang hijau di halaman depan rumah. Atau sekedar menikmati secangkir teh hangat di sore hari dan makanan kecil seadanya. Menghabiskan waktu bercengkrama dengan orang-orang yang kita sayangi. Ah...nikmatnya.
Seperti hakekat sebuah rumah..bukan hanya house...tapi home...Rumah tempat kembali pulang. Untuk merasakannya tidak perlu banguanan yang mewah dan besar. Tapi jiwa2 yang mengisi rumah itu yang jadi pondasinya. Jiwa-jiwa yang punya banyak cinta.
Rumahku..setelah beberapa bulan ga pulang ke rumah...kesan setelah berkeliling rumah adalah...rumahku ternyata sudah tua. Cat warna kuning yang dulu tampak cerah sekarang tampak tua. Kusam. Lantainya masih tegel jaman dulu yang warnanya kuning gading bermotif acak. Belum lagi sebagian plafon di lantai dua yang berjamur gara-gara atap yang berulang kali bocor. Buku-buku juga tampak tidak teratur di lantai 2. Belum lagi banyak barang-barang yang sebenernya sudah tidak terpakai lagi, tapi sayang buat dibuang. Kadang jadi bingung ini rumah atau gudang...hehehehe...
Kamarku pun...sudah tidak jelas...yang mana ya kamarku??? Sepertinya banyak yang terjadi yang membuat tata ruangnya pun brekembang sesuai kondisi dan kebutuhan keluarga. Tidak punya kamar yang jelas tak apalah...justru aku senang bisa tidur sama mama. Hihihi....Semua ruang tetap meninggalkan makna yang dalam.
Ah mungkin rumahku jauh dari kata bagus. Apalagi kalau dibandingkan dengan rumah-rumah yang aku kunjungi dan aku bahas desainnya untuk majalah tempat aku kerja. Tapi...rumahku tetap nyaman...tetap membuatku ingin pulang dan berlama-lama disana.
Masih terpendam satu mimpi...yang semoga suatu saat nanti Allah berkenan mewujudkannya. Mimpi untuk merenovasi rumah itu jadi lebih cantik.
Hmm...Pasti..aku pasti pulang...dan mewujudkan mimpi itu.
*catatan 14sep2010 disalin dari muliply
MUDIK
Langit mendung hampir sepanjang hari. Terkadang gerimis kecil-kecil turun membasahi jalanan yang lengang. Kendaraan tidak lalu lalang seramai hari-hari sebelumnya. Pedagang keliling jalanan yang berjualan juga sudah mulai menyandarkan gerobaknya. Warteg di sebelah kantor juga sudah tutup rapat lengkap dengan jendela yang ditutupi gorden orange. Sama dengan warung penjual kebutuhan sehari-hari di gang menuju kosku. Tutup lengkap dengan papan tulisan “tutup sampai dengan 20 September”. Aih…sontak aku langsung membatin…lama benar liburnya.
Dan itulah suasana terakhir kota Jakarta tiga hari terakhir ini. Kotanya sendiri seolah malas untuk “bangkit”. Hawa murungnya membuat seisi kota seolah enggan “berlari” lagi seperti yang selalu di lakukan kota metropolitan ini sebelumnya. Semua seolah ingin sejenak beristirahat.
Aku pun pastinya juga ingin berteriak..”Aku…aku..”, sambil mengacungkan tangan, “Aku juga mau…liburrr…mudik” Aku seolah ingin berteriak “Jangan tinggalkan aku sendiri di kota ini.”Pulang…pulang…pulang... Kata-kata itu terngiang-ngiang terusss… Aku selalu ingin pulang. Sesering apapun aku pernah pulang, aku tetap selalu mengingkannya. Pulang, aku selalu merindukan pulang. Aku sudah melewati bulan puasa di kota ini untuk pertama kalinya.
Dan sekarang ini mudik lebaran pertamaku. Owh..how I excited it so much.Semua persiapan dilakukan sebaik-baiknya. Pulang pakai kereta. Alhamdulillah masih dapat tiket meski di calo. Alhamdulillah keretanya eksekutif walopun bukan pesawat. Alhamdulillah masih bisa beli oleh-oleh. Meskipun ga banyak. Setidaknya yang utama buat kedua orang tua. Oleh-oleh buat yang lain bukan yang utama, tapi alhamdulillan masih bisa beli meskipun ga banyak dan ga seberapa.
Howhhh…how could I say that I am ready to go home…I wanna go home…Hmm…aku sudah membayangkan bertemu dengan bapak ibu, melihat senyum mereka, memeluk mereka. Aku sudah membayangkan menghabiskan waktu bercerita dengan sepupu-sepupu. Membagi banyak hal yang sudah banyak terlewatkan sendiri. Ohhww…how I really wanna that moments…Please bring me to go home…
*catatan 07sep2010
Jumat, 26 Agustus 2011
Inginku di ujung sore
Detik ini..
Aku begitu ingin ada di hadapmu
menatap teduh sorot matamu
mencium tanganmu
mendekap hangat pelukmu
melepas semua keluh&rasa rindu
aku begitu ingin ragaku ada di dekatmu
meski hanya tuk sekedar
menikmati teh hangat bersama
melihatmu tertawa kecil
ataupun
mendengarkn cerita keseharianmu
dan sepertinya aku telah terbang bgitu jauh
meninggalkanmu dalam sepi
hanya untuk mengejar yg ku bilang mimpi,cita-cita,keinginan,harapan atau apapun namanya yang
hanya tentang AKU
mungkin hanya tentang ego ku.
Detik ini aq begitu ingin bersujud di hadapanmu
mohon maaf atas smua air mata yg telah jatuh karena sepi,rindu,dan cinta yg begitu besar
aku sungguh ingin ada di hadapanmu saat ini...
Mengucapkan selamat ulang tahun padamu ibu...
Meski kini ragaku jauh..
Bakti ku tetap untukmu
Ibu...
sore...16052010
Aku begitu ingin ada di hadapmu
menatap teduh sorot matamu
mencium tanganmu
mendekap hangat pelukmu
melepas semua keluh&rasa rindu
aku begitu ingin ragaku ada di dekatmu
meski hanya tuk sekedar
menikmati teh hangat bersama
melihatmu tertawa kecil
ataupun
mendengarkn cerita keseharianmu
dan sepertinya aku telah terbang bgitu jauh
meninggalkanmu dalam sepi
hanya untuk mengejar yg ku bilang mimpi,cita-cita,keinginan,harapan atau apapun namanya yang
hanya tentang AKU
mungkin hanya tentang ego ku.
Detik ini aq begitu ingin bersujud di hadapanmu
mohon maaf atas smua air mata yg telah jatuh karena sepi,rindu,dan cinta yg begitu besar
aku sungguh ingin ada di hadapanmu saat ini...
Mengucapkan selamat ulang tahun padamu ibu...
Meski kini ragaku jauh..
Bakti ku tetap untukmu
Ibu...
sore...16052010
Selasa, 03 Februari 2009
kelabu
Pernahkah sekujur tubuhmu tiba-tiba menjadi begitu dingin. Kau rasakan sesuatu yang ada di dalam hatimu terasa begitu ngilu...sakit...pedih...Kau ingin menggenggam sesuatu yang ada di tanganmu saat itu dengan sangat keras...Tapi semua itu bahkan hanya berujung pada air yang jatuh di pelupuk matamu dan bukan derai-derai air mata yang tak berkesudahan di sepanjang malam.
Tidak pernah ada sesuatu yang pasti dalam hidup ini. Semua dalam lembar abu-abu yang tak pernah memutuskan dimana ia akan berpihak pada hitam atau putih. Manusia hanyalah menjalani selayaknya kemampuan yang mereka miliki.
Dan kelabuku menjadi lebih pekat saat takdirku lebih memilih pada duka.
Waktu menjadi indah ketika kita sadar...ia memberi kita ruang untuk hari esok...untuk berharap lagi. Perlahan waktu akan menyibakkan mendung itu. Cahaya matahari akan menyapaku lewat indahnya pelangi.
Tidak pernah ada sesuatu yang pasti dalam hidup ini. Semua dalam lembar abu-abu yang tak pernah memutuskan dimana ia akan berpihak pada hitam atau putih. Manusia hanyalah menjalani selayaknya kemampuan yang mereka miliki.
Dan kelabuku menjadi lebih pekat saat takdirku lebih memilih pada duka.
Waktu menjadi indah ketika kita sadar...ia memberi kita ruang untuk hari esok...untuk berharap lagi. Perlahan waktu akan menyibakkan mendung itu. Cahaya matahari akan menyapaku lewat indahnya pelangi.
Jumat, 30 Januari 2009
kata...
KATA
cerita...
KATA
makna...
KATA
nyata...
KATA
abadi...
hingga aku mati dalam
KATA
terkubur bersama pesonanya
tintaku tak lagi merangkai cerita
tintaku tak lagi mengukir makna
tintaku terlanjur jadi senjata
pada dunia nyata
membuatnya jadi satu bingkai
ABADI...
ah...
aku lelah berKATA-KATA
cerita...
KATA
makna...
KATA
nyata...
KATA
abadi...
hingga aku mati dalam
KATA
terkubur bersama pesonanya
tintaku tak lagi merangkai cerita
tintaku tak lagi mengukir makna
tintaku terlanjur jadi senjata
pada dunia nyata
membuatnya jadi satu bingkai
ABADI...
ah...
aku lelah berKATA-KATA
Langganan:
Postingan (Atom)
